Jumat, 18 Maret 2011

doping


Dewasa ini persaingan prestasi olahraga semakin ketat. Hal tersebut mendorong para pelatih untuk berlomba-lomba meningkatkan prestasi atletnya dengan berbagai cara, ada yang dengan memberikan latihan yang lebih keras, memanfaatkan kemajuan teknologi, atau bahkan dengan menempuh jalan yang lebih mudah yaitu dengan menggunakan doping untuk meningkatkan prestasi atlitnya.

A. Pengertian Doping.
Doping berasal kata dope (berasal dari bahasa suku Kaffern di Afrika Selatan) yang berarti minuman keras berkonsentrasi tinggi dari campuran akar-akar tumbuhan yang dipakai masyarakat setempat sebagai perangsang (stimulan) pada acara-acara trance pada kultur setempat. Setelah itu, oleh orang-orang Inggris, dari trance di Afrika Selatan disebut dope. Kata doping dalam bahasa Inggris berarti zat campuran opium dan narkotika untuk perangsang.
Kata doping pertama kali dipakai di Inggris tahun 1869 pada balapan kuda di Inggris, di mana kuda didoping. Para ahli memberikan definisi doping sebagai berikut :
1.Doping adalah pemberian obat/bahan secara oral/parental kepada seorang olahragawan dalam kompetisi, dengan tujuan utama untuk meningkatkan prestasi secara tidak wajar (Richard V.Ganslen
2.Doping adalah pemberian/penggunaan oleh peserta lomba, berupa bahan yang asing bagi organisme melalui jalan apa saja atau bahan fisiologi dalam jumlah yang abnormal atau diberikan melalui jalan yang abnormal, dengan tujuan meningkatkan prestasi (International Conggres of Sport Sciences; Olympiade Tokyo 1964).
3.Doping adalah upaya meningkatkan prestasi dengan menggunakan zat atau metode yang dilarang dalam olahraga dan tidak terkait dengan indikasi medis.

B. Sejarah Doping.
Doping sebenarnya sudah tumbuh bersama peradaban manusia. Sejak abad 500 SM, prajurit dari suku Indian Inca mampu menempuh jarak 1.750 km dari Cuzco sampai Quito selama lima hari karena selama perjalanan mengunyah daun koka (Erythroxylon coca).
Suku Tarahuma di Meksiko utara dilaporkan menggunakan peyote, sejenis kaktus, untuk meningkatkan kemampuan lari hingga 72 jam. Suku-suku di Afrika Barat selama berabad-abad juga menggunakan Cola accuminata dan Cola nitida dalam kompetisi lari atau long march.
Namun, dampak jangka panjangnya yang buruk bagi kesehatan, membuat koka (penghasil serbuk kokain) digolongkan sebagai obat perangsang atau doping. Selain golongan narkotika, seperti kokain dan ganja, ada zat lain yang tergolong doping, yaitu anabolik dan turunannya, beta blocker, hormon, bahan dengan aktivitas antiestrogenik, dan diuretik. Komisi medik FIFA juga melarang metode yang memperkaya transfer oksigen darah secara buatan, manipulasi kimia dan fisika, serta penggunaan gen.
Sayangnya, meski daftar doping baik substansi maupun metodenya terus bertambah panjang karena kemajuan teknologi, bahan-bahan yang termasuk doping juga semakin mudah diakses dengan alasan serupa.
Lewat internet, orang bisa beli substansi apa saja, dalam jumlah berapa saja, dan tentu saja tanpa resep dokter.
Belum lagi transfer darah dengan mengambil darah pemain dan nantinya ditransfusikan kembali yang sulit dideteksi karena menggunakan bagian tubuh pemain itu sendiri. Transfer darah mempercepat peningkatan jumlah sel darah merah sehingga bisa mengantar oksigen lebih banyak ke otot sebagai sumber tenaga. Dengan kemajuan teknologi, sel darah merah juga sudah ada sintetisnya sehingga atlet tinggal menyuntikkan sel darah hasil rekayasa genetika ini menjelang pertandingan.

C. Alasan Penggunaan Doping.
Faktor yang menunjang pemakaian doping:
1.Aspek psikososial.
2.Faktor kepribadian.
3.Faktor lingkungan sosial indifidu.
- Nilai sosial kemenangan.
- Lingkungan masyarakat.
- Lingkungan pemain.
4.Kurangnya informasi tentang bahaya penggunaan doping.
5.Ketatnya persaingan.
6.Komersialisasi.
7.Propaganda.
8.Frustasi.

, sebab-sebab atlet melakukan doping juga dikarenakan oleh :
1) Atlet tidak mengerti/tidak mau mengerti akan bahaya dari
Doping.

2) Keinginan pribadi si atlit untuk menang dengan cara apapun.

3) Rangsangan hadiah apabila ia menang (segi komersiel).

4) Si atlet merasa yakin bahwa obat yang mereka minum
adalah baru dan tidak dapat dideteksi dalam air seninya.


Untuk mengurangi dan menghindari doping jalan yang dapat ditempuh untuk adalah dengan cara :
1) Penyebarluasan pengertian tentang efek buruk doping bagi
tubuh.

2) Memberikan sanksi-sanksi yang sangat berat bagi para pemakainya.D. Alasan Pelarangan Doping.
1.Alasan etis.
Penggunaan doping melanggar norma fairplay dan sportivitas yang merupakan jiwa olahraga.

2. Alasan medis.
Doping dapat membahayakan pemakainya.

E. Resiko Penggunaan Doping.
Bahaya doping antara lain:
1. Dikalangan atletik penggnaan doping untuk meningkatkan prestasi yang melampai batas kemampuan normal. Keadaan ini tidak wajar dan berbahaya, karena rasa letih merupakan peringtan dari tubuh bahwa seseorang tersebut telah sampai batas kemampuannya. Jika dipaksakan bisa menimbulkan “exhaustion” yang membahayakan kesehatan.
Overdose dapat berbahaya, dapat menimbulkan kekacauan pikiran, delirium, halusinasi, perilaku ganas, dan juga aritmia jantung yang dapat menimbulkan masalah serius. Untuk mengatasi gejala ini digunakan sedative misalnya diazepam.

2.Doping dengan suntikan darah akan menimbulkan reaksi alergi, meningkatnya sirkulasi darah di atas normal, dan mungkin gangguan ginjal. Golongan obat peptide hormonis dan analognya dapat berakibat si atlet menderita sakit kepala, perasaan selalu letih, depresi, pembesaran buah dada pada atlet pria, dan mudah tersinggung.
3.Efek bahaya suntikan eritropoetin berupa darah menjadi lebih pekat sehingga mudah menggumpal dan memungkinkan terjadinya stroke (pecahnya pembuluh darah di otak).
4.Penggunaan deuretika terlalu banyak dapat berakibat pengeluaran garam mineral yang berlebihan. Akibatnya timbul kejang otot, mual, sakit kepala, dan pingsan. Pemakaian yang terlalu sering mungkin akan menyebabkan gangguan ginjal dan jantung.
5.Penggunaan analgesic pada atlit perempuan berfungsi menghilangkan rasa sakit ketika haid. Tetapi, dampaknya jika salah memilih obat bisa mengakibatkan sulit bernapas. mual, kehilangan konsentrasi, dan mungkin menimbulkan adiksi atau kecanduan.
6.Salah satu jenis doping yang paling sering digunakan para atlet adalah obat-obatan anabolik, termasuk hormon androgenik steorid. Jenis hormon ini punya efek berbahaya, baik bagi atlet pria maupun atlet perempuan karena mengganggu keseimbangan hormon tubuh serta meningkatkan risiko terkena penyakit hati dan jantung. Khusus bagi atlet perempuan, pemakaian hormon ini akan menyebabkan tumbuhnya sifat pria, seperti berkumis, suara berat, dan serak. Lalu, timbul gangguan menstruasi, perubahan pola distribusi pertumbuhan rambut, mengecilkan ukuran buah dada, dan meningkatkan agresivitas. Bagi atlet remaja, itu akan mengakibatkan timbulnya jerawat. Yang terpenting, pertumbuhannya akan berhenti.
7.Beta-blockers membendung penyampaikan rangsangan ke jantung, paru-paru dan aliran darah, memperlambat rata-rata detak jantung. Itu dilarang dalam olahraga seperti panahan dan menyelam karena menghindarkan getaran. Efek merugikan yang terjadi antar alain mimpi buruk, susah tidur, kelelahan, depresi, gula darah rendah dan gagal jantung.
8.HGH Human Growth Hormone (hormon pertumbuhan manusia), somatotrophin. menyamai hormon pertumbuhan dalam darah yang dikendalikan oleh mekanisme kompleks yang merangsang pertumbuhan, membantu sintesa protein dan menghancurkan lemak. HGH disalahgunakan oleh saingan untuk merangsang otot dan pertumbuhan jaringan. Efek yang merugikan termasuk kelebihan kadar glukosa, akumulasi cairan, sakit jantung, masalah sendi dan jaringan pengikat, kadar lemak tinggi, lemahnya otot, aktivitas thyroid yang rendah dan cacat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar